Tim SAR Gabungan masih berupaya mengevakuasi para korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Operasi pencarian dan evakuasi dilakukan di medan ekstrem dengan tantangan cuaca yang berat.
Korban ditemukan dalam kondisi utuh, tengkurap, dan tertahan di salah satu pohon di tepi tebing curam.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa fokus pencarian saat ini diarahkan pada penyisiran lanjutan di sekitar titik temuan, baik untuk barang-barang milik korban maupun bagian pesawat.
Korban kedua tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin (19/1) siang. Penemuan ini menambah jumlah korban yang berhasil ditemukan sejak pesawat dinyatakan hilang kontak pada Sabtu (17/1).
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengonfirmasi temuan tersebut.
Syafii menjelaskan jenazah ditemukan sekitar pukul 14.00 WITA. Berdasarkan laporan awal dari personel di lapangan, korban berjenis kelamin perempuan.
Saat pertama kali ditemukan, korban masih mengenakan name tag atau tanda pengenal, sehingga diyakini merupakan pramugari.
“Nanti mungkin (identitas korban) persisnya dari DVI, tapi dari informasi awal bahwa korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan berjenis kelamin perempuan,” jelas Syafii.
MEDAN EKSTREM HAMBAT EVAKUASI
Proses evakuasi menghadapi tantangan berat karena lokasi penemuan berada di tebing yang sangat terjal dan curam di kawasan perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. Kondisi tersebut menuntut kehati-hatian serta teknik evakuasi khusus.
Sebelumnya, korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1) sekitar pukul 14.20 WITA di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung.
“Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” ujarnya.
Basarnas memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara. Namun hingga kini, upaya tersebut belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal di sekitar lokasi.
“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.
Tiga penumpang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tengah menjalankan misi patroli atau pengawasan kelautan melalui udara, yakni Ferry Irawan, Deden Maulana, dan Yoga Naufal.
Sementara itu, tujuh kru pesawat terdiri atas Captain Andi Dahananto sebagai pilot dan Muhammad Farhan Gunawan selaku kopilot. Selain itu, terdapat Flight Operation Officer (FOO) Hariadi, dua Engineer on Board (EOB) atau teknisi bernama Resti Ad dan Dwi Murdiono, serta dua pramugari Florencia Lolita dan Esther Aprilita.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pesawat ATR 42-500 tersebut dinyatakan laik terbang sebelum kejadian.
“Kami sudah memeriksa dokumen kelaikan terbang dari pesawat tersebut dan pesawat tersebut dinyatakan laik terbang,” kata Dudy dalam konferensi pers di posko utama pencarian korban dan puing pesawat PK-THT di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.